Rabu, 10 Juli 2013

IQ NABI MUHAMMAD SAW 500 LEBIH


Seorang anak berusia  tujuh (7) tahun bertanya pada bapaknya, “siapa sih orang yang terpinter di dunia ini?” Spontan, bapaknya menjawab, “Nabi Muhammad saw, IQ nya 500 lebih”. Anaknya mengangguk pertanda setuju, karena percaya pada ucapan bapaknya. Tapi bapaknya berpikir, bagaimana membuktikan bahwa Nabi Muhammad saw, IQ nya 500 lebih, sedangkan belum  ada orang yang mengukurnya. Bapaknya tambah bingung, bagaimana kalau anaknya bertanya apa penemuan Nabi Muhammad saw dalam ilmu pengetahuan hingga Dia dianggap orang paling pinter di seluruh dunia.

Sementara itu, Einstein begitu terkenal sebagai manusia genius, karena Dia bisa menemukan kebenaran empiris dengan menggunakan logikanya. Seluruh dunia tahu, dan tidak pernah ada yang membantah, Einstein adalah manusia genius. Kejeniusannya diajarkan di sekolah-sekolah, mulai dari Taman Kanak-kanak sampai perguruan tinggi. Lalu bagaimana dengan Nabi Muhammad saw? Jarang orang  berani mengklaim bahwa Nabi Muhammad saw, sebagai manusia super jenius. Rata-rata orang menganggap  Nabi Muhammad saw adalah orang bijaksana, jujur, penyabar, santun, taat pada Tuhan, tanpa kejeniusan.

Sebenarnya tidak penting, untuk  tahu berapa kecerdasan Nabi Muhammad saw? Namun seiring dengan kemajuan zaman, orang-orang begitu menghargai kecerdasan intelektual, dan menganggap Nabi Muhammad saw, tidak cerdas intelektual. Akibatnya ketika berbicara kecerdasan intelektual, teladannya adalah Einstein.  Kondisi ini membuat ambigu masyarakat (muslim), karena harus meneladani dua sosok yang berbeda karakter. Nabi Muhammad saw yang diidentikan tanpa kecerdasan intelektual, dianggap kurang cocok diteladani karena zaman menghendaki kecerdasan intelektual.

Entah siapa yang salah, dan apa alasannya, ada yang setuju mendudukkan Nabi Muhammad saw, sebagai manusia tidak cerdas intelektual. Mengapa juga, orang-orang Islam begitu nyaman ketika teladannya dianggap bodoh, tidak bisa membaca, dan dileceh-leceh karena dianggap tidak cerdas secara intelektual. Apakah mereka tidak berpikir, bahwa kecerdasan intelektual yang dimiliki Nabi Muhammad saw, tidak akan ada yang sanggup menandinginya.

Mari kita uji, benarkah kecerdasan Nabi Muhammad saw di atas 500, melebihi manusia paling cerdas di muka bumi ini. Untuk melihat kecerdasan Nabi Muhammad saw, kita perlu sudut pandang objektif. Kita dudukkan Nabi Muhammad saw sebagai manusia biasa. Sudut pandang ini sebagai metode, agar seluruh manusia sadar bahwa disandingkan dengan Einstein, kecerdasan Nabi Muhammad saw tidak akan tertandingi.

Dari sudut pandang humanis, Nabi Muhammmad saw adalah manusia biasa. Berikut adalah keterangannya. “Orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang telah Kami beri Al Kitab (Taurat dan Injil) mengenal Muhammad seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri. Dan sesungguhnya sebahagian di antara mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahui”. (Al Baqarah:146).

Lalu bagaimana mengetahui bahwa Nabi Muhammad saw lebih cerdas dari pada Einstein? Mari kita berandai-andai, jika kitab Al-Qur’an yang kita baca sekarang adalah produk pengetahuan Nabi Muhammad saw, maka berapakah kecerdasan intelektual yang dimiliki Nabi Muhammad saw? Mari kita berandai-andai ayat kitab suci Al-Qur’an di bawah ini sebagai pengetahuan, produk pemikiran Nabi Muhammad saw.

Malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Tuhan dalam sehari yang kadarnya lima puluh ribu tahun”. (Al Ma’aaru:4)

Dan mereka meminta kepadamu agar adzab itu disegerakan, padahal Allah sekali-kali tidak akan menyalahi janji-Nya. Sesungguhnya sehari di sisi Tuhanmu adalah seperti seribu tahun menurut perhitunganmu. (al Hajj:47)

Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik kepada-Nya dalam satu hari yang kadarnya (lamanya) adalah seribu tahun menurut perhitunganmu. (as-Sadjadah:5)

Kalau saja ayat diatas hasil pemikiran manusia, berarti manusia yang mengemukakannya sudah mengetahui perbedaan (relativitas) waktu berdasarkan perbedaan ruang dan kecepatan. Hitungan sehari di tempat tertentu berbeda dengan hitungan sehari si tempat lain. Tentu orang ini adalah pemikir hebat. Mengapa demikian? 

Kurang lebih 1400 tahun kemudian, ilmu pengetahuan modern diwakili Albert Einstein, menemukan kesimpulan bahwa apabila kecepatan suatu benda bertambah, maka waktu akan lambat. Apabila waktu berjalan dalam kecepatan cahaya maka kemungkinan besar waktu akan semakin lambat (berhenti). Pada tahun 1976 ilmuwan Universitas Mirelland, Amerika Serikat membenarkan teori Einstein tentang waktu akan berjalan lebih cepat di atas puncak gunung daripada di dasar lembah. Dengan menggunakan jam atomik, mereka menemukan bahwa jam yang ada di pesawat lebih cepat dari pada jam yang ada di permukaan bumi. (Muhmamad Kamil Abdushshamad:2003).

Jika saja Albert Einstein dipuja-puja sebagai manusia genius, karena berhasil menemukan teori relativitas waktu, lalu bagaimana dengan Nabi Muhammad saw, yang telah mengemukakan teori relativitas waktu sejak 1400 tahun yang lalu?  Anda pasti akan bilang, Nabi Muhammad saw lebih jenius dari pada Albert Einstein. Jikalau seorang manusia biasa, berarti Nabi Muhammad saw sudah bisa mengambil kesimpulan tentang teori fisika tanpa melakukan penelitian, dan pemikirannya teruji benar setelah dilakukan pembuktian itupun setelah 1400 tahun.

Kami sebagai  muslim, bukan hanya menganggap Nabi Muhammad saw sebagai manusia jenius, Dia adalah Rasulullah yang telah menerima wahyu suci dari Tuhan. Kami berkeyakinan sejumlah pengetahuan yang terkumpul dalam kitab suci, bukanlah produk pemikiran manusia biasa, kalau pun ada orang yang tetap menganggap itu produk manusia tidak akan ada lagi manusia sejenius Nabi Muhammad saw. Jadi berapa kecerdasan Nabi Muhammad saw? Jawabannya 500 lebih bahkan tak terukur. Mengapa tak terukur, karena yang dikemukanan Nabi Muhammad saw adalah pengetahuan, pemikiran, logika, yang langsung diwahyukan dari Tuhan.  

Jika Anda masih tidak percaya, Saya sarankan baca Al-Qur’an dengan tafsir ilmu pengetahuan. Di dalam kitab suci Al-Qur’an bukan hanya relativitas waktu yang bisa anda temukan, tapi teori-teori fisika modern (fisika kuantum), sudah dikemukakan dalam Al-Qur’an. Anda pasti akan berkesimpulan tidak akan ada ilmuwan multidisipliner yang dapat menandingi ilmuwan sekelas Nabi Muhammad saw.

Lalu mengapa sekarang umat Islam sedikit tertinggal dalam pengembangan ilmu pengetahuan. Segala sesuatu pasti ada ajalnya. Zaman kejayaan ilmu pengetahuan dunia Barat ada ajalnya, dan sekarang secara alami kejayaan sedang berpindah ke Timur. Mulai dari Cina, kejayaan Islam akan bangkit ditandai dengan kesadaran umat Islam untuk melakukan islamisasi ilmu pengetahuan.

Umat Islam kini sedang giat mengembangkan metode pengembangan ilmu pengetahuan baru, yang akan menyempurnakan metode ilmu pengetahuan produk Barat. Sudut pandang humanistik akan digantikan dengan sudut pandang Tuhan, dimana kitab suci Al-Qur’an akan dijadikan sebagai sumber dasar dalam pengembangan ilmu pengetahuan.    

Salam sukses dengan logika Tuhan. Follow me @logika_Tuhan.

1 komentar:

  1. membaca perkembangan sejarah penaklukan Andalusia Spanyol oleh Islam, maka terlihat pengetahuan itu berasal dari Islam. Orang-orang Baratlah perampok sejati pengetahuan islam dari perpustakaan2 di abad itu.

    BalasHapus